March 23, 2018

Twitter Jadi Sarana Penyebaran Hoaks Paling Efektif

Berita bohong alias hoaks terbukit lebih cepat disebarkan melalui social media Twitter daripada klarifikasinya. Ini sesuai hasil riset dari MIT (Massachusetts Institute of Technology) AS. Penyebabnya ternyata bukan karena program atau bots pada system platform tersebut melainkan karakter penggunanya yang lebih suka me-retweet  sebuah berita tanpa mempertimbangkannya masak-masak.

 

Retweet tanpa pikir panjang

Soroush Vosoughi, salah satu ilmuan pada lembaga tersebut mengatakan bahwa saat pihaknya menghapus seluruh system pada dataset, tak ada perbedaan yang signifikan antara penyebaran hoaks serta berita klarifikasinya. Hasil penelitian ini juga membuktikan bahwa sekitar 70% hoaks lebih banyak di-retweet  daripada berita kebenarannya.

 

Dalam riset tersebut para peneliti juga mengamati rantai retweet atau cascade yang tak putus sehingga penyebaran berita bohong menjadi 10 sampai 20 kali lipat lebih cepat dibandingkan klarifikasinya. Hasil riset juga menyebutkan bahwa penyebaran fakta ironisnya 6 kali lebih lambat dibandingkan berita hoaks. Pada penelitian bertajuk  “The Spread of True and False News Online”, meneliti pola penyebaran berita bandar togel sgp bohong tentang pengeboman pada lomba marathon Boston 2013 lalu.

 

Pada riset tersebut MIT menyelidiki hingga 126.000 rantai retweet berita hoaks yang tersebar di Twitter, dan secara keseluruhan telah dicuitkan oleh lebih dari  4,5 juta kali oleh sekitar 3 juta akun mulai tahun 2006 hingga 2017. Untuk mendapat klarifikasi kebenaran sebuah berita, para peneliti mengecek beberapa situs, seperti urbanlegends.about.com, factcheck.org, hoax-slayer.com, dan lainnya.

 

Hasilnya, tema politik paling mendominasi dengan 45 ribu berita, disusul oleh urban legend, bisnis, terorisme, sains, entertainment, serta peristiwa alam. Jadi kesimpulannya, hoaks tentang politik lebih diminati. Hal yang sama tampaknya juga tengah terjadi di Negara kita apalagi menjelang Pilkada serta Pilpres.

 

Ini alasannya kita suka berita bohong        

Hasil riset di atas menunjukkan bahwa berita bohong lebih disukai daripada fakta, karena sebaran berita klarifikasi ternyata lebih lambat dibandingkan berita hoaks. Alasan mengapa kita suka berita palsu karena manusia secara alami menyukai sesuatu yang berbeda. Berita hoaks dapat diramu menjadi sesuatu yang seolah orisinil dan dengan naïf orang suka membagikannya kepada para followernya di akun media social masing-masing.

 

Jejaring social di zaman sekarang ini memang dapat menjadi panggung yang baik untuk mereka yang ingin mencari perhatian. Ini termasuk perhatian sebagai penyebar berita yang pertama walaupun kebenarannya belum dapat dipastikan. Seorang peneliti dari MIT mengatakan bahwa mereka yang pertama kali membagi sebuah berita yang “mengejutkan”, terlepas dari hoaks atau bukan akan dianggap sebagai orang yang tahu.

 

Penelitian tentang hoaks ini juga menyelidiki sisi emosional balasan tweet tersebut. Berita-berita hoaks faktanya menimbulkan perasaan shock serta kejijikan yang besar, sementara berita fakta justru membangkitkan komentar bernada kepercayaan, antisipasi, dan kesedihan. Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa penyebaran berita hoaks memang cukup mengkhawatirkan di dunia maya.

 

Para pemilik akun social media mungkin saja tidak sengaja menyebarkan berita bohong dan tak mempunyai niat yang buruk. Sebaliknya ada beragam hal yang melatarbelakangi motivasi mereka. Sayangnya belum ada riset lebih jauh untuk mengantisipasi atau mengatasi penyebaran hoaks yang semakin memprihatinkan ini.

 

Para peneliti berpendapat bahwa langkah pertama untuk mengatasi penyebaran informasi yang tidak benar adalah dengan memahami bagaimana pola penyebaran berita hoaks tersebut. Badan pengawas siber sejatinya mempunyai tugas yang lebih berat selain hanya menawarkan solusi yang merupakan pendekatan teknologi, misalnya dengan merekayasa system yang berkaitan dengan bots.

 

Untuk melawan penyebaran berita palsu lebih penting untuk mengintervensi perilaku masyarakat pengguna internet.

Read more